Tidak ada yang sepenuhnya baru di bawah Matahari. Begitu pun tidak ada yang sepenuhnya palsu di atas rak film bajakan tukang VCD. Orisinalitas sebatas lagu lawas. Sementara ingatan nyata dari film-film bajakan itu selalu menemukan cara untuk hidup selamanya.
Intervensi internet dan buku memang mengambil porsi besar dalam membentuk diri saya. Ditambah kisah-kisah lucu teman sebaya, momen kasmaran dan patah hati, serta, terutama, omelan yang tak habis-habis dari orang tua. Namun terlepas dari itu semua, pengalaman masa kecil bersama film-film bajakan medio 2000-an dapat tempat tak tergantikan. Mereka adalah tarikan napas pertama dari maraton panjang pembentukan selera, juga alasan sederhana, tetapi cukup kuat, untuk saya terus berkeras kepala menantang dunia.
Tentu menonton film tidak serta-merta bisa diklaim sebagai perlawanan. Tapi menonton film bajakan, saya percaya, adalah pembangkangan kecil-kecilan. Tanpanya, saya dan banyak anak muda lain mungkin takkan bisa menembus imajinasi melampaui tempurung kami sendiri, yang sering kali mentok di pintu bioskop.
Walaupun angka kerugiannya terdengar mengerikan—produser sensational merugi Rp1.495 triliun per tahun—pembajakan punya efek Eksternalitas Positif. Ada benefit sosial yang tak pernah dihitung nominalnya, dalam konteks ini berupa keterbukaan budaya bagi mereka yang sulit mendapat akses, yang mendongkrak literasi dan aktivitas perekonomian secara luas pada ujungnya. Bahkan dedengkot sinema Jerman, Werner Herzog, mengizinkan orang-orang menonton versi bajakan karyanya dan bilang, “Pembajakan sudah menjadi bentuk distribusi [film] paling berhasil sedunia.” Tanpa bajakan, selera kolektif kita sebagai negara dunia ketiga sudah pasti lebih dangkal dibanding Lubang Buaya.
Fantastic Bootlegs and Where to Find Them
Film bajakan terakhir yang saya tonton adalah Lewat Djam Malam (1954) karya Usmar Ismail. Digadang-gadang sebagai Citizen Kane-nya Indonesia, film ini masuk daftar lebih dari 900 judul dalam proyek restorasi Martin Scorsese, kemudian dipajang di Criterion Collection mulai tahun 2020. Ironisnya, saya malahan menontonnya pertama kali beberapa tahun lalu, juga secara ilegal, lewat YouTube gratisan dengan resolusi rendah dan selipan iklan.

Lewat Djam Malam jelas bukan film kacangan yang eksis sebagai bahan nostalgia belaka. Filmnya memotret dua hari di Bandung pada masa-masa pemberlakuan jam malam pasca-Agresi Militer Belanda II (1948—1949). Kamera Usmar membuka dan menutup film dengan langkah kaki Iskandar (A.N. Alcaff), veteran yang baru pulang perang, sebagai metafor kecil yang mencerminkan di mana ia sebenarnya berpijak.
Iskandar kembali ke Bandung hanya untuk disambut keterasingan, teralienasi dari kemerdekaan yang ia perjuangkan. Bila tokoh Don Draper di serial Mad Men (2007—2015) berhasil rebranding jadi raja iklan rokok sepulang dari Perang Korea, Iskandar malah tidak cocok kerja kantoran. Ia kadung membawa pulang rahasia kotor dari garis depan, yang menggeliat naik jadi kerutan berat di jidat, dan membuatnya tidak bisa kerja formal sama sekali. Iskandar adalah mantan kombatan yang dipaksa meratapi diri sebagai mesin tanpa kehendak. Sampai-sampai adegan balas dendam Iskandar di third act—meski menunjukkan keberanian yang tidak kita dapatkan dalam dokumenter The Emperor’s Naked Army Marches On (1987)—berfungsi hanya karena itu khayalan Asrul Sani.
“Aku tidak bisa lebih hina lagi dari sekarang ini. Aku memang biasa jadi orang suruhan. Iskandar bisa disuruh menculik, membunuh orang, karena ia, toh, tidak berguna lagi,” katanya meringis.
Secara genre, Lewat Djam Malam tampil mencolok pada zamannya. Montase konterpoin sesekali dimainkan rapi, ritme kamera apik bak digarap Robert Bresson, mise-en-scene yang presisi, tak lupa nuansa noir yang kental, dengan dialog lebih mendekati vernakular indo Belanda daripada logat Sunda.
Praktis, dalam bacaan saya yang seadanya, Lewat Djam Malam lebih dari sekadar lakon soal seorang veteran linglung, melainkan juga alegori tentang idealisme fana kemerdekaan negara dunia ketiga. Ia fatamorgana hasil angan-angan bangsa jajahan yang berusaha menafsirkan kebebasan, padahal sekujur tubuh masih bau anyir dari koreng kolonialisme dan yang mampu dilakukan cuma menempelkan plester luka. Institusi semata ganti kostum dari seragam kompeni ke seragam korpri. Lebih konyolnya lagi, film sepenting ini justru lebih gampang ditemukan di lorong-lorong gelap internet ketimbang dari edukasi resmi. Seolah sejarah sinema Indonesia baru bisa terbuka apabila ia dirampas kembali oleh tangan-tangan pembangkang—mirip Proklamasi 1945 yang mesti “diculik” lewat Rengasdengklok, sementara para orang tua duduk manis menunggu kemerdekaan diberikan cuma-cuma. Itulah realitas batin poskolonial kita, ketika merdeka hanya di niat, tapi tidak sampai pada usaha apalagi stamina.
Apakah nasib mahakarya kita harus bergantung pada kemurahan hati Robin Hood sinema? Selain pembajak, siapakah yang sukarela menjaga sejarah kita agar tetap disalin dalam ingatan?
Can the Subaltern Steal?
Sekitar setahun setelah Lewat Djam Malam rilis, tepatnya pada April 1955, persis di kota yang sama di mana Iskandar berpulang, 29 negara Afrika dan Asia yang sebagian besar baru merdeka menginisiasi apa yang kemudian dikenal sebagai Gerakan Non-Blok. Sebut saja konferensi itu adalah pertama kali poskolonialisme memperkenalkan diri ke panggung politik dunia. Unjuk gigi anak-anak balita dunia ketiga, yang pada dasarnya mau bilang, “Kami belum tahu mau ke mana, tapi setidaknya sekarang kami ngomong pakai suara sendiri.”
Kebingungan itu juga melekat di badan Iskandar. Ia pulang ke Bandung, tapi tak benar-benar pulang. Sebab jiwanya masih nyangkut di masa revolusi, sementara kotanya sudah berubah bahasa. Salman Rushdie punya istilah translated man (manusia terjemahan) yang pas buat fenomena ini: manusia yang hidup di antara berbagai dunia, berbagai moral, berbagai tata krama, dan semuanya saling tabrakan. Seperti manusia Indonesia yang “merdeka” dalam kondisi “diterjemahkan”, dipindah dari satu sistem kuasa ke sistem lain tanpa kebanyakan orangnya sempat bilang setuju atau tidak. Identitasnya serba kentang. Iskandar sudah bukan prajurit, tapi juga belum jadi warga.
“Something is always lost in translation,” konon katanya.
Apalagi persoalan terjemah-terjemahan ini lebih dari urusan manusia. Seluruh budaya kita ikut dipaksa masuk template administratif sisaan kolonial, mulai tata kota, moralitas, sampai cara menikmati film. Lewat Djam Malam mencerminkan bagaimana cara negara baru belajar memandang warganya. Makanya, film ini justru terasa paling ngena ketika ditonton lewat bajakan. Ia gambaran jujur Indonesia, yang dipaksa jadi resmi tapi malah menampakkan batang hidungnya apa adanya. Bahwa kita ingin terlihat tertib, tapi pada praktiknya budaya kita survive karena keluwesan jalanan.
Di kesempatan lain, poskolonialisme turut bicara soal false translation (terjemahan palsu), yang relevan untuk diskursus sejarah sinema kita. Film Indonesia bukan cuma diterjemahkan sembarangan oleh orang luar, tapi oleh negara sendiri, lewat kategorisasi moral penguasa, menyunat sejarah, dan pakem estetika yang harus sesuai “selera nasional” yang entah apa itu maksudnya.
Di lapangan, publik menjawabnya dengan kelicikan poskolonial (sly civility) ala Homi Bhabha. Masyarakat pura-pura ikut aturan, tapi diam-diam mengakali aturan itu. Tiket mahal? Akses minim? Sensor lebay? Masyarakat yang biasa dikadalin nekad ngadalin balik situasi dengan bikin museum bawah tanahnya sendiri, dari VCD bajakan sampai rip torrent 480p.
Tidak heran jika negara-negara bekas jajahan selalu ingin dua hal sekaligus. Sebab keinginan untuk “berasimilasi tapi tetap jadi diri sendiri” adalah inti dari kegelisahan poskolonial. Ambivalensi yang mungkin akan kita bawa sampai mati. Maunya tampak modern seperti Barat, tapi ngotot mengaku “asli”. Maunya memuliakan Lewat Djam Malam, tapi menyembunyikannya di brankas terkunci.
Bagaikan sudah takdir jika bangsa yang sejak awal dibentuk lewat terjemahan paksa—dibentuk oleh sejarah yang tidak bisa ia pilih—akan selalu punya hubungan yang canggung dengan arsip dan memori. Termasuk soal film.
Dan layaknya Iskandar, mungkin kita akan memulai dan mengakhiri langkah kita dalam gelap, menafsirkan tanah air yang kita pijak sambil kebingungan, tanpa cahaya yang menuntun harus ke mana. Tetapi setidaknya, selalu ada suara kecil yang mengingatkan bahwa perjalanan ini, betapa pun berantakannya, masih milik kita sendiri.
Tanpa kenaifan itu, saya dan bocah-bocah seumuran dulu takkan berani nyolong DVD film kanibal di pasar kampung, lalu memutarnya di TV tabung berpiksel pecah dengan suara sember seperti aktor-aktornya teriak dari telepon kaleng. 20 tahun berselang, kios DVD itu kini berganti jadi web penuh pop-up iklan judol yang suka tiba-tiba kasih notifikasi kalau saya dapat undian berhadiah iPhone 16.













