partikel.id – Setelah menyaksikan Suka Duka Tawa, saya seketika tersadar bahwa titik puncak estetika sebuah sinema adalah ketika ia mampu menembus batas-batas normatif kemanusiaan. Persis seperti film ini; sebuah karya yang mendefinisikan ulang arti memaafkan dan penerimaan.
Dalam cengkeraman realitas sosio-ekonomi dan tuntutan hidup yang kian mendesak, uang sering kali dikultuskan melampaui cinta. Saya merasa, barangkali banyak dari kita yang lupa kapan tepatnya benih kasih itu pertama kali bersemi, justru di saat ujian hidup yang sesungguhnya tiba.
Melalui karakter Tawa, kita dihadapkan pada sebuah keadaan tentang bagaimana seseorang mesti berdamai dengan kerumitan hidup. Tumbuh tanpa figur ayah di tengah kondisi ekonomi yang serba pas-pasan adalah sebuah beban yang nyata. Dari sudut-sudut pengap dan sempitnya sebuah kamar kos, Tawa merajut mimpi melalui jalur Stand Up Comedy. Perlahan ia menyusun materi, disokong oleh kehadiran sahabat-sahabat terbaik yang mampu memahami segala egoismenya.
Bagi saya, keputusan Tawa untuk menertawakan diri sendiri serta merayakan ironi dalam hidupnya adalah sebuah manifestasi keikhlasan yang sublim atas segala kemalangan yang menimpanya. Dan, sebuah pertanyaan muncul: apakah menertawakan keadaan adalah sebaik-baiknya bentuk penerimaan? Sebab, apa yang dilakukan Tawa tidak sepenuhnya terlihat seperti sebuah luka yang telah terakomodasi dan terobati.

Film ini bergerak dengan ritme yang ringan tanpa kehilangan bobot maknanya. Meski dibungkus dalam balutan komedi, tapi bagi saya ini adalah sebuah drama yang disisipi canda yang mampu menciptakan harmoni yang pas antara komedi dan kepedihan ironi.
Dari karakter Keset, saya memahami bahwa cinta yang paling tulus sering kali hadir dalam diam. Meski ia pun memilih pergi, tapi pikirannya tetap tertambat pada anak dan istri. Hal ini menyadarkan saya pada satu hal: terkadang kepergian bukan berarti tak lagi peduli, melainkan sebuah upaya memberi jarak untuk belajar lebih sabar, bertanggung jawab, dan berani. Namun, apakah itu benar-benar wujud cinta kasih seorang ayah, atau sekadar manifestasi rasa bersalah yang belum mereda?
Begitu pula dengan karakter Cantik, sosok ibu yang tegar namun tetap manusiawi. Ia menyimpan sisi rapuh dalam ketidakmampuannya untuk memaafkan serta kebenciannya terhadap Keset. Namun, di balik semua itu, ada cinta yang digambarkan secara implisit melalui kehidupan indekos dan tumbuh kembang seorang Tawa hingga dewasa.
Secara teknis, film ini sangat nyaman dinikmati dengan transisi yang mengalir, serta dialog sehari-hari yang memuat kritik sosial secara sublim. Kalimat-kalimat seperti, “Emangnya orang kecil kayak kita boleh punya mimpi?” serta, “Jika semua keinginan kita terwujud, kita jadi lupa caranya bersyukur,” adalah bentuk bahasa sederhana namun memiliki kedalaman makna yang menyentil. Tak lupa, film ini juga menyisipkan kritik sosial mengenai stigma negatif yang masih menghantui posisi janda di tengah masyarakat kita.
Dari segala pemaparan di atas, poin paling krusial yang dapat saya renungkan adalah tentang proses pendewasaan dan bagaimana menerima hal-hal menyakitkan. Film ini berbicara tentang keharusan untuk ikhlas dan berdamai dengan segala peristiwa yang telah terjadi. Menontonnya terasa seperti sebuah kontemplasi dan nasihat halus bagi penontonnya; sebuah “sentilan” bagi kita yang sering kali enggan untuk memaafkan.
Tetapi, apakah menerima dan mengikhlaskan adalah syarat mutlak agar kita bisa dianggap utuh sebagai manusia? Ataukah itu hanya sekadar tuntutan moral terhadap sesama? Jika memilih untuk tidak memaafkan adalah sebuah bentuk perlindungan diri atau cara menyayangi diri sendiri, apakah kita masih harus memaksakan keikhlasan itu?
Saya rasa kita tidak perlu terjebak dalam upaya mendefinisikan ulang apa itu penerimaan, keikhlasan, dan pendewasaan. Sebab, kita sering kali keliru dalam mempraktikkannya. Saya sadar bahwa kita adalah makhluk yang secara alami enggan memaafkan, menolak untuk ikhlas, dan acuh terhadap penerimaan. Mungkin, kita memang tidak dirancang untuk itu.
Tapi, bisakah kita sejenak berpikir: bukankah jika kita sanggup melampaui ego tersebut, itulah yang justru mengutuhkan kita sebagai manusia? Mungkin di bagian planet lain, orang-orang mulai mencoba untuk saling memaafkan, mengikhlaskan dan menerima. Karena sering kali kita melupakan esensi ketiga hal tersebut hanya karena sebuah gengsi.
Seperti Tawa, Keset, dan Cantik yang pada akhirnya memilih untuk memaafkan demi kebahagiaan yang belum usai, dan memilih mengikhlaskan di saat ego menuntut untuk tetap berdiri tegar. Saya berterima kasih kepada film ini yang telah mengajarkan bahwa bagaimana pun keadaannya, kita harus terus berjalan dan jangan lupa untuk tetap tertawa.
Namun, apakah canda dan tawa adalah satu-satunya hal yang kita punya untuk menghadapi hidup?
Sekian.













