Jakarta, partikel.id – Unit rock asal Jakarta, Black Horses kembali menghidupkan semangat distorsi yang autentik melalui single terbaru mereka berjudul “Distorsi Menggema”.
Dirilis di bawah naungan Firefly Records, lagu ini hadir sebagai ledakan emosi yang tak hanya berbicara soal musik. Lagu ini turut menyuarakan tentang perlawanan, kejujuran, dan cara untuk tetap manusiawi di tengah dunia yang semakin bising secara digital.
“Distorsi Menggema” lahir dari ruang penuh kabel, amplifikasi, dan pencarian jati diri. Black Horses menciptakan lagu ini sebagai bentuk pelampiasan energi yang lama terpendam.
Gitar mengaum, drum bergerak tanpa kompromi, dan vokal memancarkan rasa frustrasi sekaligus pembebasan. Alih-alih mengejar kejernihan produksi, Black Horses memilih membiarkan sisi kasar dan mentah tetap terdengar.
“Kami nggak pengen lagu ini rapi. Kami pengen lagu ini jujur. Distorsi di sini bukan gangguan, dia adalah cara kami bicara,” ujar Oscario, vokalis Black Horses.
Baca Juga: Black Horses Rilis “Tirani Tua”, Babak Baru dengan Lirik Berbahasa Indonesia
Dalam proses produksinya, band ini menggandeng John Paul Patton, bassist KPR yang turut bertindak sebagai produser, serta Ali sebagai drummer tambahan.
Kehadiran mereka memberi dimensi baru pada aransemen lagu ini. John membawa pendekatan eksperimental yang presisi, sementara Ali menyeimbangkan emosi dan dinamika suara agar tetap terasa hangat meski penuh ledakan energi.
Secara musikal, “Distorsi Menggema” menegaskan identitas Black Horses sebagai band yang lahir dari akar rock 70-an namun menolak terjebak nostalgia. Lagu ini lebih dari sekadar tribute pada rock klasik; ia menjadi metafora tentang gelombang perasaan yang ditahan, tentang keberanian untuk bersuara di tengah keramaian yang tak mendengar.
Dengan durasi 3 menit 27 detik, “Distorsi Menggema” berdiri sebagai pernyataan sikap. Ini bukan hanya lagu, tetapi ruang katarsis, tempat distorsi menjadi bentuk penyembuhan — bukan kebisingan kosong belaka.
Single ini dirilis resmi melalui Firefly Records dan diterbitkan oleh Musica Publisher Indonesia. Black Horses berharap karya terbaru ini dapat mengingatkan publik bahwa rock masih punya ruang untuk jujur, marah, pulih, dan membebaskan.













